Buatlah yang Bisa Dijual, bukan Jual yang Bisa Dibuat

Monday, December 15, 2014

Buatlah yang Bisa Dijual, bukan Jual yang Bisa Dibuat


Buatlah yang Bisa Dijual, bukan Jual yang Bisa Dibuat
- Oleh Ino Permana

Di salah satu acara bincang bisnis yang saya ikuti beberapa tahun lalu, ada falsafah bisnis dari pembicara yang sampai sekarang saya ingat. Pembicara tersebut adalah founder Suara Surabaya FM 100, radio swasta nomor 1 di Surabaya, Soetojo Soekomihardjo (alm). Falsafahnya adalah, "Jangan jual apa yang bisa kamu buat, tapi buatlah apa yang bisa kamu jual."

Kadang, dalam memulai bisnis, seseorang merasa cukup terjun hanya dengan modal keahlian dalam menciptakan sesuatu. Tetapi apakah sesuatu itu dapat dijual atau tidak, dia tidak ambil pusing dulu.

Padahal untuk pebisnis pemula, penting sekali menjual produknya dengan mudah. Karena di awal-awal bisnis, aliran dana (cash flow) adalah segalanya. Sama vitalnya dengan aliran darah dalam tubuh kita.

Aliran dana keluar dipakai untuk bahan membuat produk, biaya overhead produksi
(listrik, air, sewa tempat, gaji pegawai, dll). Pengeluaran tersebut harus segera ditutup dengan hasil penjualan. Maka kalau tidak ada penjualan yang dihasilkan, bisa-bisa segera kolaps bisnis tersebut!

Kalau perusahaan modalnya besar sih, tidak mendapatkan arus kas positif selama bertahun-tahun pun tidak masalah. Perusahaan bisa terus berjalan. Tapi kalau perusahaan itu bermodal kecil?

Begitu terasa pentingnya falsafah bisnis, "Jangan menjual apa yang bisa kamu buat, tapi buatlah apa yang bisa kamu jual."

Pak Toyo mendapat falsafah bisnis yang sederhana tapi berguna ini dari ibunya sendiri. Ketika muda, dia sering mendapati ibunya mendengarkan siaran RRI yang mengabarkan harga-harga bahan makanan pokok. Misalnya, harga cabe keriting, bawang merah, kol, dan seterusnya.

Dia bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa ya Ibu setiap hari harus mendengarkan siaran yang membosankan ini?" Bahkan bukan hanya ibunya, tetangga-tetangganya pun tak pernah ketinggalan menyimak siaran radio yang tidak lebih dari 15 menit per hari itu.

Jadi, sebenarnya ada kebutuhan-kebutuhan informasi spesifik yang belum terendus oleh radio-radio yang ada saat itu, terutama di daerah Surabaya. Di situlah dia mendapat falsafah, "Jangan menjual apa yang bisa kamu buat, tapi buatlah apa yang bisa kamu jual."

Falsafah itu kelak memudahkan perwujudan cita-citanya membuat suatu radio. Yakni radio yang terkesan memiliki informasi-informasi remeh, tapi sebetulnya banyak dibutuhkan orang. Dibuatlah siaran yang menginfokan kondisi lalu lintas di Surabaya dan sekitarnya.

Tapi itu, kisah sukses SS. Bagaimana dengan bisnis kita sendiri? Pertanyaannya, apa yang bisa kita jual? Dengan bahasa sederhana, bagaimana mencari peluang usaha?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering ditanyakan ketika saya masih sering menjadi pembicara seminar yang menyebarkan virus kewirausahaan dulu. Biasanya, yang bertanya adalah mahasiswa, ibu rumah tangga, atau orang yang ingin sekali punya bisnis.

Jawaban versi sederhananya adalah, “Sering-seringlah berkumpul kalau ada acara. Buka mata dan telinga. Lalu berburulah orang-orang yang sedang mengeluh, bisa dari ucapannya atau ekspresinya.”

Kok berburu orang yang mengeluh? Yang benar saja! Benar kok. Karena dari setiap keluhan seseorang itu, ada peluang usaha yang menunggu untuk ditindaklanjuti.

Contohnya, ibu dari almarhum Soetojo tadi. Meskipun tidak sampai mengucapkan keluhannya, lama-lama bisa diprediksi kenapa setiap hari harus mendengarkan harga-harga sembako di RRI. Mungkin uang untuk belanjanya terbatas, jadi harus berhemat. Bisa juga sebagai senjata yang ampuh dalam tawar-menawar di pasar, biar tidak dibohongi pedangan pasar soal harga.

Contoh lainnya, kenapa ada layanan delivery makanan? Karena seseorang melihat keluhan dari orang-orang sibuk di kantornya. Mereka tidak ada waktu untuk keluar kantor, bosan dengan menu yang ada di kantin atau penjual sekitar kantor, ingin menikmati menu kesukaan tapi bakulnya sangat jauh, malas kena pana dan macet, atau hanya tak punya waktu karena kerjaan menumpuk.

Jadi, sering-seringlah berburu keluhan orang. Kalau sudah terbiasa dan terlatih, otomatis akan muncul di dalam otak, peluang-peluang usaha. Bukankah dari dulu orang selalu bilang, “Masalahmu adalah sumber rezekiku.” Di situlah kita akan bisa menjual apa yang kita buat.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.