SMS: Hidup Segan, Mati Enggan?

SMS: Hidup Segan, Mati Enggan?

"Hari ini, adakah yang masih menggunakan SMS?" seorang kawan pernah bertanya, setengah mengejek. Namun, tidakkah terlalu dini ejekan tersebut? Sebab, tennamtu saja masih banyak yang memakai SMS. Short Message Service atau SMS adalah sebuah layanan pesan singkat untuk mengirim dan menerima teks pendek di jaringan ponsel. Semua pemilik ponsel pasti masih menggunakannya, baik dengan sengaja (aktif) atau terpaksa (pasif).

Aplikasi SMS sudah menjadi bawaan. Begitu kita membeli ponsel, asalkan ada jaringan kartu SIM dan pulsa aktif, kita pasti sudah bisa mengirim atau menerima SMS. Tarif normalnya antara Rp100-350 per pesan. Yang dimaksud satu pesan itu panjangnya 140 karakter. Bisa lebih, tetapi tarifnya akan dihitung sebagai dua SMS, tiga SMS, dan seterusnya.

Pada periode 2000-an, fitur SMS menjadi primadona. Maklum, terkadang kita malas berbicara (menelepon), menulis email, atau chatting di komputer (waktu itu, ponsel belum sepintar sekarang). Apalagi bila yang ingin disampaikan sekadar, misalnya, “Sekarang, saya sudah di Masjid Ampel.” Atau dalam bahasa SMS yang biasa disingkat-singkat (demi mengejar 140 karakter atau hanya karena malas mengetik lengkap lewat tuts ponsel), “Sy sdh di msj ampel.”

Pudarnya Pesona SMS Hari Ini

Seolah mati suri, SMS sekarang mati segan, hidup enggan. Terutama setelah banyak betebaran aplikasi obrolan seperti WhatsApp (WA), Telegram, Facebook Messenger, LINE, dan lain-lain. Biaya komunikasi teks menjadi jauh lebih murah. Plus, lebih canggih. Aplikasi-aplikasi baru ini mampu mengirim dokumen, gambar, suara, serta video, bahkan bertelepon secara audiovisual!

Lumrahlah bila pamor SMS, platform yang hanya punya kemampuan tekstual, meredup sedikit demi sedikit.

SMS tidak laku, para operator seluler pun seperti kehilangan sandang-pangannya. Mau tak mau, perubahan tren ini merugikan mereka sebagai “penjual” pulsa, yang notabene merupakan bahan bakar SMS.

Namun, operator seluler menolak berlama-lama berkabung atas mati surinya SMS. Mereka banting setir, dari fokus berjualan pulsa menjadi fokus berjualan kuota internet, bahan bakar aplikasi obrolan.

Bagaimanapun, kita belum tahu apa yang ada di benak mereka tentang masa depan SMS. Apakah teknologi lawas ini hendak dibunuh? Atau dibiarkan menggantung, hingga akhirnya mati-mati sendiri?

Sepertinya, pilihan kedualah yang diambil. Indikasinya, mereka tidak melakukan apa-apa untuk membangkitkan kejayaan SMS, selain mengeluarkan paket-paket semacam "100 SMS", "beli kuota dapat gratis SMS", dan seterusnya. Pertanyaannya, apa menariknya promo-promo semacam itu bila pengguna aktif SMS semakin jarang?

Riwayat SMS

Adalah Friedhelm Hillebrand dan Bernard Ghillebaert dari GSM Corporation, dua rekan yang pertama kali mengembangkan teknologi SMS, tepatnya pada 1984. Pengembangan ini kemudian dilanjutkan oleh Matti Makkonen. Pada akhirnya, pegiat teknologi dari Finlandia inilah yang disebut sebagai penemu SMS.

SMS pertama di dunia terkirim pada 3 Desember 1992. Bunyinya, "Merry Christmas." Dikirim oleh Neil Papworth melalui komputer Richard Jarvis (mantan direktur Vodafone), seorang pengembang peranti lunak dari Sema Group. Teknologi SMS masih berversi alfa. Baru segelintir ponsel yang bisa menerima SMS. Salah satunya milik Jarvis, Orbitel 901.

Setahun berikutnya, layanan SMS komersial pertama muncul di Finlandia. Nokia merupakan perusahaan pertama yang memfasilitasi tren baru ini.

Waktu itu, lalu lintas SMS masih sangat sedikit. Rata-rata, seorang pengguna ponsel hanya mengirimkan 0,4 SMS setiap bulannya. Penyebabnya diduga, pada 1995 itu, SMS hanya bisa dikirim ke operator yang sama. Sudah begitu, tarifnya terhitung mahal.

SMS mengalami masa keemasan setelah 1999. Kemudian kembali padam sesudah 2012. Facebook bahkan mengklaim, lalu lintas pesan melalui WhatsApp dan Facebook Messenger tiga kali lebih banyak dibanding gabungan pengguna aktif SMS di seluruh dunia.

Keunggulan SMS Dibanding Pesan Instan Berbasis Internet

Bagaimanapun, SMS masih menyimpan keunggulan di balik teknologinya yang terlihat kuno. Ada setidaknya tiga kelebihan SMS yang tetap relevan hingga hari ini:
  1. Sudah Bawaan Ponsel. Siapapun yang punya ponsel dan nomornya aktif, pasti bisa kita SMS. Dan mereka pasti menerimanya. Tidak ada alasan semacam, "Saya tidak punya atau belum instal SMS." Asalkan nomor teleponnya benar dan aktif, sekali lagi, SMS Anda pasti sampai.
  2. Tidak Perlu Internet. Anda tidak harus membeli kuota atau mencari wifi sekadar untuk mengirim dan menerima SMS. Untuk mengirimnya, hanya perlu pulsa. Sedangkan untuk menerimanya, tanpa pulsa pun bisa.
  3. Media Komunikasi dengan Operator Seluler. Baik operator itu yang menginfokan sesuatu, atau kita yang menginginkan sesuatu dari operator, SMS adalah media komunikasi standarnya. Misalnya, Anda ingin membeli paket internet, mencari tahu informasi tertentu, menindaklanjuti prosedur USSD (itu, lo, yang *12345*678#), dan seterusnya.
Dengan tiga keunggulan ini, SMS sebenarnya ideal untuk Anda yang hendak mengirim content marketing secara rutin ke lingkaran konsumen. Tidak perlu berpikir, "Apakah Pak ini sudah menginstal aplikasi WA, ya? Atau sayakah yang harus menginstal Telegram supaya dapat menjangkaunya?"

Tidak perlu menebak-nebak, kalau media yang Anda pilih SMS. Semua yang punya nomor telepon pasti bisa di-SMS! Jadi, pesan-pesan marketing kontennya pasti sampai.

Marketing SMS lebih efektif dibanding marketing email. Sebab, email pun membutuhkan internet, dan tidak semua orang menerapkan opsi push email di ponselnya. Itu artinya, pesan Anda belum tentu langsung dibaca. Beda dengan SMS yang selalu aktif di ponsel.

Namun bagaimanapun, jangan sembarangan juga dalam memanfaatkan SMS untuk keperluan bisnis. Perhatikan etikanya. Patut disayangkan bahwa SMS belakangan ini sering dipergunakan untuk hal-hal seperti:
  • Modus Penipuan. Mulai dari "mama minta pulsa", "BRI bagi-bagi hadiah", "Anda menang undian Indosat", sampai tahu-tahu, "Transfer saja ke nomor rekening ini."
  • Promo yang Mengganggu (Spam). Baik resmi dari operator seluler maupun pihak luar yang, entah bagaimana caranya, mendapat nomor ponsel kita.
Dua hal ini sebenarnya gol bunuh diri dari operator seluler, khususnya bila mereka tidak ada niat kuat untuk menertibkannya. Harusnya, ada kerja sama antara pihak operator seluler (untuk membuka identitas pemilik nomor ponsel), bank (untuk membuka identitas pemilik nomor rekening penipu), dan polisi (untuk menindaklanjuti kasus penipuan melalui SMS).

Namun, kerja sama ini sepertinya masih jauh panggang dari api. Alasannya, menunggu laporan konsumen. Padahal, dalam praktiknya, laporan konsumen juga jarang ditanggapi secara tuntas. Apakah harus menunggu laporannya banyak dulu untuk satu kasus?

Terlalu lama!

Akibatnya seperti sekarang, masih saja kita membaca SMS-SMS tidak penting, baik yang sekadar menjengkelkan (seperti penawaran pinjaman), sampai yang bertendensi menipu. Katanya, sekarang nomor-nomor ponsel sudah diverifikasi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK)? Kenapa hal-hal semacam ini seperti masih sulit dilacak dan dihentikan?

Yang lebih konyol lagi, bila ternyata sang spammer adalah operator seluler itu sendiri. Faktanya, mereka sering mengirim SMS-SMS iklan, yang sebagian besar tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen. Mudah-mudahan Dinas Komunikasi dan Informasi mau segera menerbitkan regulasi yang tegas soal ini, agar jalur SMS "steril" dan kondusif kembali.

SMS sebenarnya masih memiliki keunggulan untuk bertahan di zaman serbainternet ini. Masih bisa bangkit dan berjaya kembali. Namun, semua tergantung kebijakan operator selulernya. Jika mereka terus membiarkan SMS dimanfaatkan sebagai sarana penipuan dan spamming, percayalah, konsumen akan semakin terbiasa mengabaikan SMS. SMS datang, SMS dihapus. Atau dibiarkan menumpuk, lalu secara periodik, dihapus semuanya tanpa satu pun dibaca. Mau seperti itu?

- Tulisan: Brahmanto Anindito

Comments