Jangan Remehkan Kemampuan Mendongeng

Jangan Remehkan Kemampuan Mendongeng

Pada era media audiovisual yang serbacanggih ini, banyak orang sudah meninggalkan kegiatan mendongeng. Istilah "dongeng" sendiri tampaknya bergeser ke konotasi negatif, atau minimal "tidak keren". Seperti dinilai sudah kuno, tidak sesuai modernitas zaman, hanya untuk anak-anak, dan sebagainya.

Padahal, justru pebisnis-pebisnis besar di luar sana terus mengasah kemampuan storytelling alias mendongeng mereka.

Mendongeng adalah Permainan Imajinasi

Di sinilah keunggulan manusia yang tidak bisa ditiru oleh makhluk hidup lain. Menurut agama Islam, kita tahu, manusia memang khalifah di dunia. Tetapi bila hal ini dirasionalkan, maka kata kuncinya bisa jadi adalah imajinasi. Inilah pembedanya.

Bumi ini dihuni oleh banyak makhluk hidup, yaitu burung, reptil, ikan, tumbuhan, bahkan manusia-manusia (purba) cerdas seperti Homo neaderthal. Namun, pada akhirnya, kita, Homo sapiens yang berkuasa di planet ini.

Mengapa? Apakah karena kita makhluk bumi yang paling kuat? Paling cerdas? Paling cerdik? Paling pandai beradaptasi?

Sama sekali bukan!

Faktanya, ada makhluk yang lebih kuat (dinosaurus), lebih cerdas (Homo neanderthalensis), lebih cerdik (simpanse), dan lebih punya kemampuan beradaptasi dengan alam (kecoak). Akan tetapi, terbukti mereka kalah bersaing dengan kita. Mereka minggir semua, bahkan sebagian telah punah.

Menurut Yuval Noah Harari, sejarawan Israel yang menulis buku superlaris Sapiens: A Brief History of Humankind, manusia bisa begitu dominan di bumi, karena mampu berkolaborasi dengan banyak manusia lainnya. Bukan kerja sama sederhana semacam semut menggotong makanan atau membangun sarang, tetapi kerja sama yang kompleks dan tanpa tatap muka.

Lihat ponsel Anda sejenak. Kira-kira, berapa orang yang terlibat dalam membuatnya? Ada yang mendesain bentuknya, membuat plastik kemasannya, memproduksi lensanya, menggarap peranti lunaknya, dan seterusnya.

Apakah mereka saling kenal? Secara umum, mungkin. Namun, secara tim per tim, apalagi individu per individu, tidak mungkin mereka saling kenal semua. Namun, hasil kerjanya nyata: ponsel di dekat Anda itu!

Hewan, yang paling cerdas seperti simpanse sekalipun, tidak akan mampu bekerja sama semasif dan sekompleks itu. Kenapa manusia mampu?

Masih menurut Profesor Yuval, ini terkait dengan kemampuan Homo sapiens dalam berimajinasi.

Hewan, bahkan manusia purba yang volume otaknya lebih besar dari kita seperti Homo neanderthalensis, tidak memiliki imajinasi, apalagi kemampuan untuk menyusun cerita dalam otaknya. Mereka hanya memahami realitas yang berdasarkan fakta atau yang terdeteksi oleh pancaindra mereka.

Jadi, seandainya kita menawari simpanse pisang atau uang, ia pasti memilih pisang. Karena di matanya, uang itu fiktif dan pisang itu nyata.

Padahal dengan uang, sebenarnya kita dapat membeli pohon pisang yang akhirnya berpotensi menghasilkan buah pisang dengan jumlah berkali-kali lipat, sekaligus "melahirkan" anakan-anakan pohon pisang berikutnya.

Pemikiran hewan tidak sampai ke sana. Mereka tidak mampu mengimajinasikan realitas yang belum terjadi semacam itu. Sekali lagi, keterampilan berimajinasi itu khas manusia, Homo sapiens.

Semua Orang Suka Didongengi

Baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, semua cenderung suka cerita. Buktinya, film, novel, komik, teater, selalu laris sebagai hiburan.

Bahkan, bukan hanya cerita fiksi, kisah nyata pun sering membuat kita penasaran. Misalnya, kita memiliki tetangga yang ramah, ringan tangan, biasa menongkrong bersama. Suatu hari, ia masuk televisi sebagai pelaku bom bunuh diri.

Kita otomatis terenyak menyadari bahwa orang yang sepertinya kita kenal baik, rupanya tidak sebaik yang kita kira! Kita pun penasaran ingin menggali ceritanya dari sisi yang berbeda. Kita bahkan aktif mencari tahu ke sana-kemari ke pihak-pihak yang sekiranya bisa mendongengi kita cerita lengkap tentang tetangga kita tadi.

Mendengarkan cerita memang aktivitas yang sangat alami bagi manusia. Sehari-hari, kita berbicara dan mendengar jauh lebih sering dibanding membaca dan menulis. Maka dari itu, manusia sudah sangat terbiasa untuk mendengar dan menikmati cerita.

Kecenderungan inilah yang dapat kita manfaatkan. Di negara-negara maju, budaya bertutur, mendongeng atau storytelling, sudah sering dimanfaatkan sebagai alternatif dari pengajaran atau presentasi.

Mereka percaya, cara untuk membuat orang paham bukan hanya dengan mengatakan ini adalah itu, dan itu bisa dilakukan dengan begini, begitu, bla-bla-bla. Akan lebih menarik bila kita menyampaikan materi yang sama melalui cerita.

Tentu saja, ini berbeda dengan mendongeng kepada anak-anak mengenai pangeran tampan, putri kerajaan, atau monster. Memberi bumbu cerita dalam penulisan kampanye brand atau presentasi bisnis haruslah dengan konten nyata, bukan fiksi. Meskipun tujuannya sama, yaitu membuai audiens dengan cerita kita.

Mengapa kemampuan mendongeng penting?

Sebelum salah paham, mari kita luruskan sedikit. Mendongeng (diterjemahkan dari storytelling) adalah sebuah teknik, sifatnya netral. Sedangkan kontennya bisa fiksi atau nonfiksi. Jadi jangan menyempitkan arti mendongeng dengan konten fiksi belaka.

Banyak pemimpin bisnis dan manajer pemasaran mengadopsi teknik mendongeng. Bahkan perusahaan-perusahaan raksasa seperti Microsoft, Nike, NASA, sampai World Bank mewajibkan penguasaan teknik ini bagi petinggi-petingginya ketika menyampaikan ide dan visi, supaya lebih menarik dan menancap di benak pendengarnya.

Jadi, jangan pernah meremehkan kemampuan mendongeng.

- Tulisan: Brahmanto Anindito

Comments