Kerajaan Monyet di Hutan Bakau Gunung Anyar Surabaya

Kerajaan Monyet di Hutan Bakau Gunung Anyar Surabaya

Siapa bilang tidak ada wisata alam di Surabaya? Di Kecamatan Gunung Anyar, dua kilometer dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya, Pemkot dan pemuda-pemuda setempat bahu-membahu membangun wisata sekaligus perluasan hutan bakau.

Bagi orang kota, berperahu melintasi sungai dengan pemandangan kanan-kiri hutan adalah pengalaman yang mengasyikkan. Inilah ide utama Wisata Anyar Mangrove (WAM). Sambil berperahu motor, seorang pemandu menjelaskan manfaat hutan bakau untuk mencegah abrasi laut, juga tentang flora dan fauna yang dijumpai sepanjang sungai. Termasuk cerita-cerita nahas di sini.

"Hanya empat jam setelah kabur dari kurungan, mayat monyet itu sudah ditemukan tergantung di atas pohon dengan kondisi berantakan. Wajahnya hancur. Kedua tangan dan kakinya putus, hilang entah ke mana," tunjuk Firman Arifin, ketua RW di Gunung Anyar, sekaligus pengelola WAM waktu itu, ke arah rerimbunan pohon di seberang.

"Itu ulah monyet-monyet liar di sini. Sebagai peringatan bagi monyet pendatang. Jangan salah, seperti kerajaan manusia, monyet-monyet itu juga punya teritorial, lo. Punya pemimpin, prajurit, juga aturan-aturan. Setiap monyet luar yang memasuki wilayah mereka akan dianggap sebagai upaya penyerangan. Akibatnya ya seperti itu."

Firman yang juga dosen di salah satu politeknik besar di Surabaya ini sedang menceritakan nasib salah seekor monyet bantuan dari Pemkot untuk WAM.

Sekitar awal tahun 2010, Pemkot Surabaya menyumbangkan 10 monyet yang jenisnya sama dengan monyet-monyet setempat. Namun melalui perdebatan panjang, monyet-monyet tersebut batal dilepas. Sialnya, saat akan dikembalikan, salah seekor monyet terlepas dari kurungan. Dan, sebagaimana diketahui bersama, ia pun segera bernasib tragis. Dihajar sekelompok monyet pribumi.

Kisah Firman ini seperti dongeng anak sebelum tidur. Siapa yang menyangka, di bagian timur kota industri seperti Surabaya, terdapat sebuah kerajaan monyet. Mereka hidup dalam ekosistem alami yang seimbang. Bersama ular, biawak, burung-burung lokal, juga burung-burung yang transit dari "penerbangan internasional" mereka untuk menghindari musim dingin di belahan bumi lainnya.

Menarik sekali dekat dengan alam. Cobalah diam beberapa saat di sini. Anda akan mendengar burung-burung atau monyet-monyet menyanyikan sesuatu.

Namun, bukan berarti ini tempat wisata yang sempurna. Bukan hanya soal air sungai yang berwarna cokelat itu, melainkan juga sampah-sampah yang masih berserakan di pinggirannya. Polusi untuk lingkungan, sekaligus untuk mata para wisatawan. Padahal jika digarap lebih serius, WAM pasti akan berkembang menjadi salah satu ikon Surabaya.

WAM awalnya adalah konservasi mangrove yang dirintis oleh Pemkot Surabaya. Kemudian, warga Gunung Anyar—terutama generasi mudanya—berinisiatif mengelolanya sebagai tempat wisata yang profesional. Sedikit demi sedikit, upaya perbaikan dilakukan. Ekowisata ini pun kemudian diresmikan oleh Wali Kota Surabaya, Bambang DH, pada 1 Januari 2010.

Saat itu, hadir juga ketua Surabaya Tourism Promotion Board Yusak Anshori, Camat Gunung Anyar Tambak Kanti Budiarti, dan pakar tata kota Johan Silas. Kehadiran tokoh-tokoh ini setidaknya membuktikan bahwa WAM bukan dianggap tempat wisata ecek-ecek yang tidak punya prospek pengembangan.

WAM memanfaatkan potensi-potensi lokal. Tidak hanya tenaga manusianya, tetapi juga memberdayakan perahu-perahu nelayan yang pagi sampai sore menganggur. Memang, tidak semewah perahu-perahu motor milik polisi yang biasa berpatroli untuk mengantisipasi pembalakan liar pohon bakau. Pelampungnya pun terbatas, tidak sesuai jumlah penumpang.

Namun konsekuensinya, ongkos sewa per perahu tidak mahal untuk perjalanan pulang-pergi yang kira-kira sejauh empat kilometer.

Keasrian di Tengah Hutan Beton Surabaya

Gazebo Wisata Anyar Mangrove (WAM)

Setelah mengapung di atas Sungai Gunung Anyar selama sekitar 10 menit, tibalah rombongan wisatawan di salah satu gazebonya. Rumah bambu ini dibangun di atas sungai. Lagi-lagi, terlihat banyak sampah, terutama di kaki-kaki gazebo itu. Sebuah PR yang sebenarnya tidak terlalu berat bagi pengelola.

Wisatawan saling memperkenalkan diri dalam suasana yang penuh canda tawa. Mereka yang ingin berfoto-foto berfoto-foto untuk medsosnya pasti tahu, inilah saat yang tepat.

Lihatlah, pemandangan di utara adalah Selat Madura, di sebelah timur adalah sungai yang akan bercumbu dengan laut, dan di sebelah barat adalah hutan darat yang juga segera akan bertemu bantaran sungai lagi.

Tiba-tiba, Cburrrr...!

Semua orang menoleh ke arah hutan berlumpur itu.

Dari gazebo, tampak tiga meter dari gazebo, dua ekor monyet berwarna emas berlarian keluar dari genangan air.

"Macaca fascicularis," kata Firman tenang. "Monyet ekor panjang."

Monyet-monyet itu memang biasa mencari makan di sore hari. Mereka pemakan segala, mulai dari buah, biji, sampai binatang lain. Yang unik, katanya, mereka juga piawai memancing kepiting dengan ekor.

Tanpa terasa, waktu 10 menit yang disediakan oleh pemandu untuk rehat di gazebo pun habis. Rombongan harus kembali ke dermaga, karena sebentar lagi rombongan lain akan berhenti juga di gazebo ini.

Di luar sampah-sampah dan air yang keruh kecokelatan, WAM adalah alternatif wisata yang patut dijajal ketika Anda berada di Surabaya. Cocok untuk wisatawan solo, pasangan, atau keluarga. Terutama ketika wisata darat mulai terasa membosankan. Ini tidak terlalu menguras adrenalin seperti rafting, tetapi juga tidak terlalu datar seperti melihat satwa-satwa di kebun binatang.

- Tulisan dan foto: Brahmanto Anindito, wisatawan

Comments