Setrum dari Surya untuk Rumah Tangga

Setrum dari Surya untuk Rumah Tangga

Listrik merupakan kebutuhan vital bagi manusia modern untuk menopang kegiatan hariannya. Siapa yang mampu hidup tanpa listrik? Lampu, penanak nasi, kulkas, televisi, pompa air, laptop, gawai, semua butuh setrum. Bahkan di masa depan yang tidak terlalu lama, kita juga akan butuh listrik untuk menggerakkan kendaraan bermotor. Problemnya, tarif listrik selalu naik. Sudah saatnya kita beralih ke listrik tenaga surya.

Perusahaan Listrik Negara (PLN), satu-satunya pihak yang berhak memasok listrik komersial ke warga, pun mulai memikirkan alternatif-alternatif penghasil listrik. Kendati berpotensi menggerus pendapatannya, apa boleh buat, tren dunia mengharuskan penguasa mencari sumber daya yang terbarukan.

Saat ini, listrik yang mengalir ke rumah kita sebagian besar dihasilkan dari bahan bakar fosil atau minyak bumi (biasanya dalam bentuk solar). Jeleknya bahan bakar ini, pembakarannya yang tidak sempurna akan menimbulkan polusi udara. Bahkan dalam tingkat tertentu menghasilkan efek rumah kaca yang membuat temperatur bumi semakin meninggi. Terjadilah pemanasan global atau global warming.

Selain itu, bahan bakar fosil adalah bahan bakal yang tidak terbarukan. Sebagaimana emas, semakin lama harganya akan semakin mahal. Suatu saat akan habis, dan kita tidak bisa menciptanya. Bila kita waktu itu belum menemukan bentuk-bentuk sumber energi yang bisa diperbarui, tamatlah peradaban canggih kita.

Bumi kian panas, minyak bumi kian langka, maka dalam menghasilkan listrik untuk warganya, pemerintah harus segera beralih dari bahan bakar yang tidak ramah lingkungan ke bahan bakar yang ramah lingkungan. Sinar matahari yang tidak ada habisnya di atas itu seharusnya bisa menjadi pilihan yang efektif.

PLTS: Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Indonesia memiliki sumber daya berupa matahari yang bersinar sepanjang hari, tetapi kita baru memanfaatkannya? Sayang sekali. Padahal, negara-negara maju yang umumnya terletak bukan di negara tropis justru sudah banyak memanfaatkannya.

Penggunaan tenaga surya tidak melibatkan pembakaran, sehingga tidak menghasilkan polusi serta efek rumah kaca. Pemerintah telah memberikan mandat kepada PLN untuk menggalakkan sistem PLTS bagi pelanggannya.

Mandat ini tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Aturan yang ditetapkan pada 15 November tersebut berlaku efektif per 1 Januari 2019.

Jadi ada semangat hibrid di sini, yaitu penggunaan dua sumber listrik bagi pelanggan, supaya konsumsi listrik (dari bahan fosil) tidak boros. Sehingga, tagihan pelanggan PLN pun dapat ditekan. Dalam praktiknya, penghematan tagihannya bisa mencapai lebih dari 50 persen. Menggiurkan, bukan?

Penggunaan PLTS Atap untuk Rumah Tangga

Secara umum, cara kerja pembuatan listrik melalui sinar matahari adalah dengan menangkap sinar matahari (melalui panel surya yang diletakkan di atap rumah). Energi panas yang tertangkap dikonversikan menjadi energi listrik (melalui konverter). Lalu, energi itu disimpan (melalui baterai).

Bahan dasar panel surya atau solar panel adalah semikonduktor, umumnya silikon berwarna hitam. Kaca-kaca silikon ini mengonsentrasikan cahaya matahari ke satu garis atau titik. Konsentrasi cahaya matahari akan menghasilkan energi panas. Kemudian, panas tersebut digunakan untuk menciptakan uap panas. Panas dari tekanan uap digunakan untuk menjalankan turbin yang kemudian menghasilkan setrum.

Cara Kerja PLTS Atap
Sumber Infografis: Majalah Tempo, 15-21 Desember 2018

Pada awal-awalnya, panel surya hanya untuk kepentingan industri dengan kapasitas besar (megawatt). Namun, semakin lama, semakin banyak perorangan yang tertarik memanfaatkan matahari sebagai pembangkit listrik. Biasanya, orang kaya yang mulai memasang rangkaian PLTS ini di atapnya.

Karena memang tidak murah harga perangkat ini. Maharnya bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah. Itu pun listrik yang dihasilkan hanya cukup untuk kebutuhan-kebutuhan sekunder, seperti pemanas air atau penyejuk ruangan (AC).

Karena elemen-elemennya masih banyak yang impor, sampai hari ini pun harga instalasi awal PLTS belumlah terjangkau oleh rakyat umum. Panel surya dan baterainya masih mahal. Itu pun baterainya tidak bisa dipakai selamanya. Setiap lima hingga sepuluh tahun harus ganti baru.

Kalangan menengah yang ingin memasang PLTS di atapnya harus menggunakan skema cicilan. Karena tarifnya, paling murah, masih di kisaran puluhan juta rupiah, plus ongkos kirim dan ongkos pasang.

Namun mungkin lantaran penghematannya secara jangka panjang memang signifikan, peminatnya ternyata tetap bertambah banyak. Berdasarkan data PLN, hingga November 2018, total pengguna PLTS atap sebanyak 553 atau naik 64 persen dalam sepuluh bulan. Pengguna terbanyak berada di DKI (270), Jawa Barat (108), dan Jawa Timur (87).

Semoga tidak lama lagi, teknologi ini menjadi semakin massal, murah, dan bertambah andal. Sehingga setiap rumah tangga bisa memiliki sistem PLTS ini. Dengan begitu, swasembada listrik bukan hal yang mustahil bagi warga biasa.

- Tulisan: Arta Nusakristupa