Indonesia Negeri Media Sosial


Unggul dalam jumlah penduduk membuat Indonesia unggul pula di internet. Penduduk kita bisa dibilang salah satu yang mendominasi belantara media sosial (medsos) dunia. Buktinya, sudah berkali-kali aneka tagar khas Indonesia menjadi World Trending Topic di beranda Twitter. Sampai-sampai pesohor-pesohor luar negeri kerap bingung, misalnya, “Apa maksudnya #UninstallJokowi? Semacam malware-kah?”

Warganet kita memang tampak superior di jagat maya. Entah ini termasuk hal yang membanggakan atau tidak. Contoh yang sering terjadi, ketika sebuah pertandingan bola yang terasa merugikan timnas kita, warganet langsung kompak merundung pihak-pihak tertentu. Sasarannya bisa akun Instagram wasit atau pemain lawan. Mereka pun biasanya tidak berdaya mendapat serbuan spam dari “netijen wkwk land” ini.

Kalau tidak ada lawan bersama pun kita akan bertengkar sendiri di dunia maya. Lebih-lebih menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) yang melibatkan dua kubu kuat seperti sekarang. Alamaaaak….

Survei Terbaru Pengguna Media Sosial Indonesia

Survei 2019 tentang Media Sosial

Indonesia memang negeri yang sangat aktif menggunakan media sosial.
Survei terbaru mendukung dugaan ini.

Pada Januari 2018 hingga Januari 2019 silam, We Are Social dan Hootsuite, mengadakan penelitian. Hasilnya, dari total 268,2 juta penduduk Indonesia, sebanyak 150 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial (medsos). Ini artinya, separuh lebih (56%) penduduk kita memiliki akun medsos.

Menurut hasil survei yang dirilis pada 31 Januari 2019 tersebut, dibandingkan dengan tahun lalu, terdapat penambahan sekitar 20 juta pengguna medsos di Indonesia.

Sayang, tidak diketahui apa saja medsos yang disukai warganet Indonesia. Namun bila ditilik berdasarkan jumlah penggunanya secara global pada 2018, jawabannya mungkin sudah bisa ditebak. Facebook berada di urutan teratas dengan 2,2 miliar pengguna dunia. Posisi berikutnya secara berturut-turut adalah YouTube (1,8 miliar), Instagram (1,4 miliar), dan Twitter (336 juta).

Pengguna medsos di Indonesia terbanyak berusia di rentang 18-34 tahun. Rata-rata, satu pengguna memiliki setidaknya 11 akun berbagai medsos. Sebanyak 130 juta pengguna atau 48% dari populasi Indonesia mengaksesnya dari gawai (ponsel pintar atau tablet).

Orang Indonesia menghabiskan waktu kurang-lebih 3 jam 26 menit untuk menggunakan medsos. Angka tersebut meningkat tiga menit dari tahun lalu.

Besarnya populasi Indonesia dan pesatnya pertumbuhan pengguna internet ini sebenarnya kondusif sekali untuk pertumbuhan ekonomi digital nasional. Apalagi, pertumbuhan ini diperkirakan akan melaju semakin pesat setelah Palapa Ring benar-benar selesai tahun ini.

Sekadar catatan, Palapa Ring adalah proyek jaringan fiber optik 4G dengan kecepatan mencapai 30 Mbps. Infrastruktur penting ini dibangun membentang dari Sumatra hingga Papua.

Perkuat Literasi, Jangan Terlalu Fokus Infrastruktur

Keunggulan jumlah penduduk yang terfasilitasi internet ini bukan saja membuat Indonesia disegani karena people power-nya. Tidak elok rasanya bila potensi ini justru kita pergunakan untuk merundung warganet, wasit, atau pemain bola lawan yang kita anggap merugikan Indonesia. Harusnya keunggulan ini kita manfaatkan untuk hal-hal yang lebih positif.

Jika ditata dengan baik, Indonesia akan segera menjadi raja ekonomi digital, minimal di kawasan Asia Tenggara. Ini yang mestinya kita genjot agar segera terwujud.

Namun akan sia-sia belaka bila jumlah yang besar ini tidak disertai dengan pendidikan literasi digital yang memadai. Bukannya disegani, bangsa kita akan mudah diinjak-injak dan hanya menjadi pasar bagi perusahaan-perusahaan luar.

Sebuah portal besar dunia pernah membahas pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem. Di forum itu, banyak warganet kita yang turut berkomentar menyatakan ketidaksetujuannya. Sayangnya, argumen-argumen mereka kebanyakan terasa mentah dan sulit “bersaing” dengan para pengomentar lainnya yang jumlahnya jauh lebih sedikit tetapi lebih logis.

Di sinilah terlihat dua kelemahan utama warganet kita. Pertama, lemah dalam penguasaan bahasa Inggris. Jangankan bahasa Inggris, berbahasa Indonesia saja kita masih berantakan, baik ejaan maupun logika penulisannya. Kedua, literasinya juga lemah. Ini karena budaya membaca dan memahami persoalan kita masih tergolong rendah.

Apa gunanya unggul jumlah jika tidak dibarengi dengan unggul kualitas warganya? Apa gunanya Indonesia negeri media sosial atau raja medsos jika literasi media dan digitalnya rendah? Tanpa literasi yang kuat, kita hanya akan seperti buih di lautan. Banyak, tak berbilang. Tetapi mudah hilang.

- Tulisan: Win Andriyani

Comments