Buku The AI-fication of Jobs dan Persiapan Menyambut Pekerjaan Masa Depan

- Judul: The AI-fication of Jobs
- Sub-judul: Preparing Ourselves for the Future of Work
- Penulis: Huy Nguyen Trieu
- Penerbit: CFTE
- ISBN: 9781068556739
- Tebal: 308 halaman
- Terbit: 2 November 2024
Menarik sekali buku terbaru dari Huy Nguyen Trieu ini. The AI-fication of Jobs berbicara mengenai perubahan besar yang terjadi di dunia kerja sebagai konsekuensi dari berkembangnya kecerdasan buatan alias Akal Imitasi (AI) atau Artificial Intelligence.
Melalui The AI-fication of Jobs, pengusaha dan akademisi Vietnam ini mengajak kita untuk (segera) beradaptasi dengan perubahan yang dibuat oleh AI di masa depan. Berikut ini poin-poin pentingnya.
Bagaimana AI Membentuk Masa Depan Dunia Pekerjaan

Para ahli memperkirakan, sekitar 60 persen pekerjaan akan terdampak oleh AI, baik secara positif maupun negatif. AI dapat membantu pekerja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Namun, AI juga dapat menggantikan pekerjaan yang sudah ada. Bahkan, memengaruhi karier seseorang.
Itulah mengapa kita semua perlu aktif memahami fungsi dan cara kerja AI serta pengaruhnya terhadap kehidupan dan pekerjaan kita.
Kita dianjurkan untuk mengubah cara pandang dan memahami tiga tren utama dalam dunia kerja. Pekerja yang tahu cara memanfaatkan AI akan memiliki nilai lebih, dan industri yang menggunakan AI akan berada di barisan depan persaingan.
Tiga Fase Revolusi

Revolusi Industri I
Mekanisasi pertama kali mengancam industri tekstil, pada awal abad 19. Kaum Luddite Inggris (kelompok pekerja terampil, diambil dari nama seorang demonstran, Ned Ludd), berusaha melawan penggunaan mesin-mesin itu. Pemberontakan mereka sebenarnya tidak bermaksud menghancurkan peralatan. Mereka hanya berjuang untuk bertahan hidup.
Meski demikian, Kaum Luddite gagal menghentikan Revolusi Industri pertama. Pada pertengahan tahun 1800-an, produksi massal menggantikan sebagian besar kerajinan tangan yang mereka perjuangkan. Ini mengakibatkan banyak pengrajin kehilangan pekerjaan dan jatuh dalam kemiskinan.
Di sisi lain, mekanisasi meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi dalam angka yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Di luar dugaan, sebenarnya lebih banyak lapangan pekerjaan yang tercipta. Dengan kata lain, Revolusi Industri pertama membuat perubahan positif bagi kemakmuran ekonomi modern.
Revolusi Industri II
Revolusi Industri kedua terjadi pada awal abad 20. Polanya berulang. Pada masa ini, diproduksi listrik, baja dan perluasan metode produksi massal yang menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Industri menjadi penyangga utama ekonomi global.
Kendati pabrik-pabrik membuka banyak lowongan kerja, hal ini juga menyebabkan tenaga manusia kehilangan nilainya. Akibatnya, ada kelompok yang diuntungkan, seperti insinyur, manajer, dan pekerja otomotif dan kimia. Ada pula yang dirugikan, seperti pengrajin dan petani yang dengan mudahnya digantikan oleh mesin.
Revolusi Industri III
Fase ini terjadi pada pertengahan abad 20. Pemicunya adalah perkembangan internet dan teknologi digital. Dampaknya, pekerjaan bergaji tinggi di bidang pengembangan perangkat lunak menjamur, tetapi mereka yang bekerja di bidang administratif, misalnya, terancam.
Digitalisasi mampu mengefisiensi waktu dan tenaga, tetapi menghambat kesempatan bekerja bagi sebagian kalangan. Mereka yang tidak mampu beradaptasi mengalami keterbatasan peluang untuk bekerja dan menyebabkan kesenjangan antara pekerja berpenghasilan tinggi dan rendah.
Menariknya, walaupun terjadi berbagai revolusi industri, tingkat keseluruhan pekerjaan relatif stabil. Masih banyak yang bertahan, walaupun mengalami pergeseran ke sektor-sektor baru.
Jika masyarakat bisa beradaptasi dengan zaman, mereka pasti bisa menemukan pekerjaan baru yang menggantikan pekerjaan lama yang hilang.
Bagaimanapun, setiap perubahan teknologi tidak selalu berjalan mulus. Kesenjangan upah makin melebar seiring perkembangan teknologi. Beberapa orang sukses, sementara beberapa yang lain sulit menyesuaikan diri.
Beda Tanggapan Soal AI
Menurut buku ini, pendapat para ahli terbelah terkait AI dan pekerjaan.
(1) Kubu yang telah menerima AI
Kubu ini menganggap AI sebagai bagian dari pola sejarah yang awalnya mengganggu dunia pekerjaan, tetapi ternyata dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
AI disamakan dengan inovasi-inovasi pada masa revolusi industri seperti penemuan mesin uap dan listrik. Mereka yang berada di kubu ini adalah para optimis seperti Yann LeCun dan Bill Gates.
(2) Kubu yang mencurigai AI
Menurut kubu kedua ini, AI tidak hanya mengubah industri, tetapi juga meniru kemampuan manusia, yang artinya bisa mengancam peran manusia dalam kehidupannya dengan cara yang tidak kita duga.
Mereka yang berada dalam kubu ini antara lain Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer yang meninggalkan Google karena khawatir terhadap cepatnya perkembangan AI, lalu pelopor AI Yoshua Bengio, juga Elon Musk yang yang memperingatkan bahwa AI dapat mengganggu keberadaan masyarakat.
(3) Kubu penulis buku
Huy Nguyen Trieu sendiri memiliki pandangan bahwa revolusi AI berbeda dari revolusi industri sebelumnya. Waktu itu, perubahan dimulai dengan industri terlebih dahulu, kemudian berdampak pada pekerja, tetapi pada akhirnya menciptakan industri dan lapangan kerja baru.
AI, menurutnya, tidak mengikuti pola ini, tetapi langsung menggantikan tugas-tugas individu dalam suatu pekerjaan tanpa mengubah keseluruhan industri. Akibatnya, industri-industri itu tetap ada, tetapi dengan lebih sedikit pekerja manusia.
Beberapa profesi, seperti layanan pelanggan dan penerjemah mengalami perubahan besar karena perusahaan mulai menggunakan fitur-fitur bertenaga kecerdasan buatan.
AI menggantikan keahlian manusia. Ia mengubah nilai keterampilan manusia secara langsung. Perubahan ini terjadi lebih cepat dari sebelumnya dan bersifat mendalam serta personal.
Pemodelan AI untuk Masa Depan
Kendati masa depan tidak dapat diprediksi dengan pasti, sebuah model dapat memberi ilustrasi bagaimana dan apa yang akan terjadi. Hal ini bisa kita ketahui dengan menggunakan Prisma Inovasi CDE yang berfungsi sebagai kerangka kerja praktis untuk memahami dampak AI terhadap masyarakat dan dunia kerja.
Model ini membagi inovasi ke dalam tiga kategori. Dengan meneliti kategori-kategori ini, kita dapat lebih memahami bagaimana teknologi baru dapat mempengaruhi pasar dan menciptakan peluang bagi ekonomi.
C: Cheaper
Ini inovasi yang bersifat lebih murah, lebih baik, dan/atau lebih cepat. Fokusnya peningkatan efisiensi. Para inovator menargetkan bagian pasar yang tidak efisien, memisahkan layanan untuk meningkatkan kualitas, lalu menggabungkannya kembali untuk memperluas pengaruh mereka.
Contohnya, Amazon yang awalnya hanya menjual buku, kemudian berkembang menjadi perusahaan ritel raksasa global. AI mengikuti pola ini dengan bersaing langsung dengan tenaga manusia, menawarkan alternatif yang lebih murah dan lebih cepat.
Di sini, kita menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan menurunkan biaya-biaya. AI dapat mengurangi beban biaya, menyederhanakan pekerjaan, meningkatkan akurasi, dan membantu manusia menyelesaikan tugas-tugas yang melibatkan data.
Ini dapat kita temui dalam chatbot layanan pelanggan, yang dapat bekerja sepanjang waktu dalam berbagai bahasa. Biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan menggaji karyawan.
Contoh lain, perusahaan pakaian Mango sudah menggunakan AI untuk membuat kampanye pemasaran tanpa perlu fotografer atau model. AI terbukti berhasil menghemat biaya marketing dan mengganti pekerjaan manusia secara besar-besaran.
D: Different
Inovasi ini untuk menciptakan perbedaan dengan ide-ide yang berani dan transformatif. Misalnya, Facebook yang menciptakan kembali interaksi sosial atau iPhone yang mendefinisikan era telepon pintar.
Para disruptor mengambil kesempatan untuk mendefinisikan kembali sebuah industri. AI dapat mengikuti jalur ini dengan menghasilkan peran yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.
Di sini, kita melihat cara-cara yang digunakan AI untuk membentuk pasar kerja dengan membentuk kemungkinan-kemungkinan baru. Dalam AlphaFold 2, AI merevolusi pelipatan protein dan menemukan obat baru.
Contoh lain juga kita lihat pada mobil tanpa pengemudi. Jika dahulu kita menganggap semua itu mustahil, sekarang hal-hal semacam itu nyata hadir di tengah-tengah kita. Ini menunjukkan bahwa AI bisa berkembang menghasilkan hal-hal yang sepenuhnya baru.
E: Enhancing
Inovasi ini bersifat meningkatkan produktivitas atau aksesibilitas. Contohnya Salesforce, yang mengoptimalkan efisiensi tempat kerja bagi perusahaan.
AI dapat berfungsi sebagai penyempurna, alih-alih menggantikan pekerjaan manusia, mempermudah pekerjaan seseorang, serta membantu pengambilan keputusan yang lebih cerdas.
Ketika AI digunakan untuk enhancing, terjalinlah kerja sama antara AI dan manusia. Dalam kasus ini, AI membantu manusia dalam melakukan pekerjaannya dengan lebih cepat, lebih mudah, dan lebih efisien. Bukan menggantikannya.
Contohnya bisa kita lihat pada GitHub Copilot yang membantu pengembang menulis kode dengan lebih efektif, meningkatkan produktivitas mereka hingga lebih dari 25 persen. Dalam bidang konsultasi, AI juga membantu menganalisis kumpulan data besar.
Bersiap dan Bersikap terhadap AI
AI mendisrupsi dunia kerja dengan cepat. Tidak ada kata terlambat untuk bertindak. Jangan mengulangi kekeliruan yang sama dengan ketika kita mengabaikan peringatan tentang perubahan iklim.
Walau membantu kita dalam menghadapi berbagai tantangan global, AI juga bisa mengakibatkan risiko negatif jika dibiarkan berkembang tanpa pengawasan atau regulasi, seperti meningkatnya kesenjangan sosial dan ekonomi, hilangnya jutaan pekerjaan, serta terganggunya stabilitas sosial masyarakat.
Maka diperlukan pengelolaan yang bijaksana agar manfaat AI dapat dirasakan secara merata tanpa merugikan kelompok tertentu.
Saat ini, raksasa teknologi seperti OpenAI, Google, dan Microsoft tengah berlomba-lomba mengembangkan AI. Namun jangan salah, mereka adalah perusahaan-perusahaan komersial. Tentu prioritas utama mereka adalah bisnis dan uang, bukan kepentingan masyarakat.
Di sinilah, kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, membiarkan kekuatan AI berpusat pada kalangan elite teknologi, sementara banyak pihak yang tidak bisa ikut merasakan dampak positifnya.
Atau opsi kedua, bersikap aktif dalam mengiringi perkembangannya, sehingga AI dapat melayani semua lapisan masyarakat, tidak hanya memprioritaskan pihak tertentu.
Bersikap aktif juga berarti mendorong pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa AI dapat mudah digunakan secara merata. Perusahaan diharapkan berinvestasi dalam kolaborasi antara manusia dan AI, serta membantu karyawan meningkatkan keterampilan agar mereka mampu bekerja bersama AI.
Selain itu, masyarakat juga perlu mendorong praktik-praktik penggunaan AI yang etis dan memotivasi para pemimpin di bidang AI untuk memecahkan masalah sosial, bukan hanya mengejar keuntungan.
Bagaimana Memanfaatkan AI untuk Mendukung Karier
Menjadi profesional yang unggul tidak berarti harus bersaing dengan AI. Kita selalu bisa bekerja bersama AI untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas. Langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain:
(1) Fokus pada bidang keahlian masing-masing
Apapun bidang kita, baik pemasaran, kesehatan, teknik, pendidikan atau lainnya, AI sangat berguna. Beruntunglah kita yang sudah menguasai seluk beluk bidang kita, karena kita tinggal memaksimalkan AI untuk memecahkan tantangan-tantangan spesifik di sana.
Kunci utamanya, tetap fokus dan terus memperbarui keterampilan agar selalu selaras dengan tren industri.
(2) Mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menggunakan AI
Tidak perlu mahir memprogram atau membangun algoritma AI. Cukup dengan mengetahui bagaimana memanfaatkan AI, kita sudah bisa meningkatkan produktivitas serta efektivitas kerja.
Seorang pemasar dapat menggunakan AI untuk menganalisis perilaku pelanggan, tenaga medis dapat memanfaatkannya untuk mendukung diagnosis, desainer dapat mengoptimalkan rancangannya, dan sebagainya.
Mempelajari AI melalui kursus daring, tutorial, atau eksperimen juga dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman dengan teknologi ini.
(3) Menyadari pentingnya “belajar seumur hidup”
AI berkembang dengan cepat dan mengubah berbagai peran kerja yang ada saat ini. Kemampuan beradaptasi sangat penting. Teruslah mempelajari penggunaan alat-alat baru, menghadiri lokakarya, dan membangun jejaring dengan para profesional yang lebih dahulu menguasai perkembangan teknologi.
Sebab, ilmu yang menolak berhenti berkembang ini hanya mampu diimbangi dengan kemauan untuk terus belajar.
(4) Padukan keterampilan Anda
Kombinasikan keterampilan manusiawi Anda dengan keterampilan nonteknis seperti kreativitas, pemecahan masalah, komunikasi, dan kecerdasan emosional. Hal-hal ini sangat berharga dalam dunia masa kini yang didukung AI.
Dengan memiliki kemampuan-kemampuan tersebut, posisi Anda tidak akan tergantikan oleh AI.
Menjadi profesional yang hebat tidak hanya perlu mengandalkan strategi. Penting juga untuk melihat AI sebagai mitra kerja dan memanfaatkan kemampuannya untuk berkembang serta berinovasi.
Pada akhirnya, AI tidak menggantikan pekerjaan, tetapi mengubah cara kita dalam bekerja. Bagaimana hasilnya, tergantung pada kita.
Kesimpulan Buku The AI-fication of Jobs
Jangan samakan teknologi Akal Imitasi (AI) dengan fase-fase revolusi industri sebelumnya. Sebab, AI membawa perubahan yang tidak dimulai di tingkat industri, melainkan di tingkat manusia dengan menggantikan keterampilan manusia.
Itulah salah satu yang ingin dikatakan Huy Nguyen Trieu melalui bukunya ini, The AI-fication of Jobs: Preparing Ourselves for the Future of Work.
Menurutnya, masa depan AI dapat dilihat dalam tiga kategori berbeda: AI Lebih Murah/Lebih Baik/Lebih Cepat yang menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan, AI Berbeda yang menciptakan inovasi yang benar-benar baru, dan AI Ditingkatkan yang menyebabkan hubungan kolaboratif yang supercanggih.
AI membawa perubahan besar dalam dunia kerja, itu tidak bisa disangkal. Namun, teknologi ini sebaiknya dipandang sekadar sebagai alat kolaborasi, bukan ancaman. Sehingga, kita perlu meningkatkan keterampilan agar dapat bekerja sama dengan AI.
Selain itu, penting juga untuk mengatasi tantangan sosial yang muncul dengan menerapkan kebijakan dan praktik etis yang mencegah pemecatan massal akibat kehadiran AI. Dengan cara-cara ini, perkembangan AI dapat diarahkan untuk memberikan manfaat bagi semua orang.
Masa depan pekerjaan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan sesuatu yang bisa dibentuk demi kebaikan bersama.
Post a Comment for "Buku The AI-fication of Jobs dan Persiapan Menyambut Pekerjaan Masa Depan"
Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing maupun rewriting tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.