Jumarsih, Penyerang PSKT yang Dua Kali Membobol Gawang Persebaya

Jumarsih, Penyerang PSKT yang Dua Kali Membobol Gawang Persebaya

Sedikit kejutan terjadi di lanjutan Babak 64 Besar Piala Indonesia 2018-2019. Tepatnya di laga PSKT Sumbawa Barat versus Persebaya Surabaya. Bahwa Persebaya akan menang, meski menurunkan skuat lapis kedua, itu sudah bisa diprediksi. Maklum, PSKT adalah klub kasta Liga 3, sementara tim tamu adalah 5 Besar di Liga 1, kasta tertinggi kompetisi PSSI. Namun ada satu pemain PSKT yang dinilai menonjol dalam pertandingan itu, Jumarsih.

Sepanjang laga, pria bernomor punggung 11 itu menunjukkan determinasinya. Dia terus merepotkan barisan pertahanan Persebaya. Padahal sebelumnya, nama Jumarsih nyaris tidak terdengar di belantara persepakbolaan Indonesia. Siapa sebenarnya pemain yang di akun-akun media sosialnya menamakan diri Joe Khacibie ini?

Profil Jumarsih

Tahukah Anda, Jumarsih adalah pemain bola asli Lombok. Tepatnya dari Desa Lingsar, Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di lapangan, pria gempal ini selalu tampil nyentrik. Beberapa warganet menyamakan rambutnya dengan Ronaldinho (mantan megabintang sepak bola Brazil dan klub Barcelona), Ruud Gullit (mantan megabintang sepak bola Belanda dan AC Milan), Slash (gitaris band rock legendaris Guns N' Roses), Bob Marley (penyanyi reggae legendaris), bahkan Sodiq Monata (penyanyi dangdut).

Di tempat asalnya, Jumarsih bergabung dengan beberapa klub. Dia lumayan sering menjadi top scorer alias pencetak gol terbanyak di bermacam kompetisi bola lokal dan tarkam.

Setelah berpindah-pindah klub kecil, Jumarsih akhirnya berlabuh ke klub yang agak besar, yaitu Persatuan Sepakbola Kemutar Telu (PSKT) Sumbawa Barat. Di sana, dia diposisikan sebagai striker atau penyerang sayap kanan. Nomor yang dipilihnya sejak dulu selalu 11.

Bertanding melawan Persebaya Surabaya, Jumarsih dan kawan-kawan tidak gentar. Lahmudin, sang pelatih, merasa tanpa beban. Alih-alih bermain bertahan, mereka memainkan sepak bola terbuka. Fokus PSKT hanya untuk memperagakan permainan terbaik, mengimbangi permainan lawan, dan tentu saja mencetak gol.

Bagi PSKT, “Melawan Persebaya adalah kesempatan terbaik untuk menunjukan keterampilan individu setiap pemain,” ujar Lahmudin. Jumarsih dan kawan-kawan pun menjalankan instruksi pelatihnya dengan gemilang.

Akibatnya, Persebaya terseok-seok di sepanjang 2 x 45 menit. Bukan hanya karena bermain dengan skuat kedua dan tanah Stadion 17 Desember Mataram tidak rata, faktor militansi serta permainan kolektif kesebelasan lawan yang berjuluk Lebah Putih itu juga patut diacungi jempol.

Persebaya mencoba menekan pertahanan PSKT Sumbawa Barat sejak peluit babak pertama ditiup. Namun, tim Bajul Ijo selalu mengalami jalan buntu. Malah, pada menit 19, gawang Persebaya yang dijaga Alfonsius Kelvan kebobolan terlebih dahulu oleh tandukan Jumarsih.

Bukan hanya sekali, Jumarsih menjebol gawang Persebaya untuk kedua kali. Dia kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-77. Dari tengah lapangan, Jumarsih melewati beberapa pemain belakang Persebaya yang terkenal disiplin. Dia memperagakan umpan satu-dua, lalu melakukan solo run sebelum mengecoh Kevlan dengan sebuah tendangan mendatar tetapi akurat. Kedudukan pun kembali berubah, meskipun tuan rumah tetap tertinggal.

Berikut ini video rangkuman jalannya pertandingan dan gol demi gol yang dilesakkan Jumarsih:


Laga pada Minggu, 23 Desember 2018, yang dimulai pukul 14.00 WIB itu berakhir dengan kedudukan 2-4. Dengan hasil ini, PSKT harus mengubur impiannya untuk lanjut ke babak 32 Besar Kratingdaeng Piala Indonesia 2018-2019.

Potensi Karier Sepak Bola Jumarsih

Bagaimanapun, Jumarsih terlanjur membuat bonek (fans Persebaya) jatuh hati. Alih-alih marah-marah atau memaki-maki khas Surabaya karena si gondrong itu bolak-balik melanggar pemain bertahan Persebaya hingga dia diganjar kartu kuning, bonek malah memuji-mujinya.

Di media-media sosial, mereka menilai penampilan Jumarsih cocok dengan karakter Persebaya yang ngeyel alias ngotot. Skill individunya terbukti berkali-kali merepotkan barisan pertahanan Persebaya.

Bonek pun menganjurkan Jumarsih untuk ikut ujicoba ke Karanggayam, markas Persebaya di Surabaya. Bahkan sebagian langsung me-mention pelatih dan manajemen Persebaya agar memanggil bakat lokal dari Indonesia Timur ini sebagai alternatif penyerang. Mumpung Liga 1 2019 belum bergulir.

Persebaya memang terkenal sebagai klub yang menghargai talenta-talenta lokal. Mereka lebih suka membina ketimbang mencomot pemain yang sudah jadi. Nama-nama seperti Andik Vermansyah, Fandi Eko Utomo, Evan Dimas, Hansamu Yama, Satria Tama, termasuk juga sang asisten pelatih (Bejo Sugiantoro) adalah sebagian kecil contoh produk asli didikan Persebaya.

Bagaimana dengan Jumarsih?

Dari postur tubuh yang ideal, rambut gondrong yang unik, militansinya selama bermain penuh sejak menit pertama, kemampuannya menggocek si kulit bundar, juga eksekusinya yang tenang di area penalti, Jumarsih jelas mempunyai nilai jual. Peluangnya bukan hanya di Persebaya, bahkan!

Namun, semua ini selalu kembali ke faktor usia, konsistensi permainan, serta sikap profesionalisme yang bersangkutan, baik di lapangan maupun sehari-harinya. Sebab di Indonesia, pemain bola Liga 1, apalagi timnas, adalah public figure juga. Setiap sikap dan temperamen harus terjaga, karena publik senantiasa menyorotnya.

- Tulisan: Alva Altera
- Foto: Facebook Jumarsih